Inilah Titanoboa, Ular Purba Terbesar di Dunia: Panjang hingga 13 meter dengan Bobot 1,25 Ton

  • Bagikan
Ilustrasi Gambar Titan Boa
Ilustrasi Gambar Titan Boa, img: Dailymail

Tutwuri.id – Titanoboa merupakan spesies ular purba yang hidup pada Zaman Paleosen. Diperkirakan ular ini memiliki panjang 13 meter dengan bobot mencapai 1.25 ton.

Jika dibandingkan dengan ular terbesar saat ini, Anaconda memiliki panjang hingga 6 meter dengan bobot sekitar 200 Kg.

Kerangka ular raksasa ini pertama kali ditemukan oleh tim ilmuwan internasional di Kolombia dan saat ini kerangkanya disimpan di Museum Sejarah Alam, Florida.

Baca Juga: Cuaca Panas Ekstrim Landa Laut Pasifik, Ratusan Kerang Ditemukan Terpanggang di Tepi Laut

Jason Head, salah seorang ahli paleontologi di University of Toronto menyebut bahwa Titanoboa memiliki bentuk tubuh yang sangat lebar.

Untuk tulang tengkorak sendiri hingga saat ini belum ditemukan spesimen yang utuh lantaran bagian tulang ini sangat rapuh.

Oleh karenanya, membuat gambaran akan makhluk melata raksasa ini sangat sulit lantaran menebak bagaimana bentuk kepala dari monster besar ini.

Namun beberapa tahun lalu, peneliti melakukan pencocokan dari tiga fragmen tengkorak Titanoboa dan berhasil mendapat gambaran dari wujud ular raksasa ini.

Dari hasil penelitian, diperkirakan ular ini tumbuh dengan ukuran panjang 12 hingga 13 meter dengan bobot 1.25 ton.

Baca Juga: Arkeolog Inggris Berhasil temukan 200 Kerangka Manusia Dari Abad ke-6 di Pantai Wales

Peneliti juga menyebut bahwa Titanoboa hidup pada Zaman Paleosen periode 10 juta tahun sejak Dinosaurus punah dari bumi.

Saat menjalankan ekspedisi penggalian, turut ditemukan pula kerangka dari buaya dan kura-kura purba yang diduga mangsa dari Titanoboa.

Dari rilis Jonathan Bloch yang dilansir dari laman Museum Florida menyebut bahwa suhu di wilayah khatulistiwa dahulu lebih dingin.

Hal ini dibuktikan dengan ukuran tubuh ular dan hewan berdarah dingin lainya ditentukan oleh suhu pada tempat tinggalnya.

“Jika melihat hewan berdarah dingin dan penyebarannya saat ini, yang besar berada di daerah tropis, tempat terpanas, dan akan ukurannya akan semakin kecil jika semakin jauh dari khatulistiwa,” ucapnya.

Baca Juga: Area Lapisan Es di Kutub Utara Makin Mencair, Ilmuwan Menduga Dampak Perubahan Iklim

Berdasarkan ukuranya, para ilmuwan meyakini bahwa suhu rata-rata tahunan wilayah khatulistiwa Amerika Selatan 60 juta tahun lalu berkisar 91 derajat fahrenheit.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *